“ Adudududuh , sakit pak !!! “ ujar Dhilla saat sebuah tangan sukses menjewer
telinganya. “ Ampun pak , ampun ! “ tambahnya.
“ Sudah berapa kali kamu telat selama seminggu ini ? “ tanya Pak Jarwo.
“ E . . . . E . . . .E . . . . Enam pak . “ jawab Dhilla dan tangan yang masih
menjewer telinganya semakin menekan jewerannya hingga pipi Dhilla
seperti tomat rebus . Kontan Dhilla meringis kesakitan.
Pak Jarwo melepaskan tangannya dari telinga Dhilla kemudian mengambil buku
berwarna hijau yang ada di kursi didekat tempat berdirinya Dhilla . “ Cepat
diisi . Lihat poin yang sudah kamu kumpulkan selama satu minggu ini ! Sekali
lagi kamu terlambat bersiaplah untuk skors selama satu minggu ! “ . Pak Jarwo
mengingatkan Dhilla bahwa dalam satu minggu ini Dhilla sukses mencetak 60 poin
.
“ Iya pak . . . “ . Dhilla bergegas mengeluarkan pulpen dari tasnya dan
mengisi buku hijau yang diberikan Pak jarwo . ‘ Gila bener ! masak gue udah
nyetak poin sebanyak ini seh ? Dalam satu minggu pula ! parah bener !!! ‘batin
Dhilla . Setelah selesai , buku itu diserahkan pada Pak Jarwo . Dhilla
menimang-nimang kira-kira hukuman apa yang akan diberikan Pak Jarwo padanya .
“ lari keliling lapangan basket 5 kali . “ kata Pak Jarwo .
. . .
“ Emang lo kalau malem ngapain aja si La ?” Tanya Ega.
“Nonton tipi.” Jawab Dhilla asal.
“Lo nonton tipi ? Gag salah nih ? Sejak kapan lo suka nonton tipi ? Bukannya lo
itu salah satu makhluk pembenci tipi ya Dhill ?” gentian Rara yang angkat
bicara.
“Eh lo diem aja , gag usa ikut-ikut nimbrung. Lanjutin aja tuh acara makan lo.”
kata Dhilla yang kontan langsung dipelototin Rara . Tapi ujung-ujungnya Rara
nerusin acara makannya juga.
“ Beneran deh Dhill , lo kalau malem ngapain aja sih ? Gak kayak biasanya lo.
Apalagi lo udah nyiptain 60 poin dalam satu minggu , bener-bener bukan lo deh.”
Kata Ega yang mulai merasa ada yang ga beres sama Dhilla.
“Lo tenang aja . Gue gak kenapa-kenapa. Masalah poin udahlah gak usah dipikir ,
bentar lagi juga lebur. Terus masalah kalo malem gue ngapain aja itu ada yang
gue kerjain , lo pada gak usah tau.” Kata Dhilla
Ega langsung bungkam mulut. Ega tau sifat Dhilla yang ga suka kalo ada
urusannya yang dicampurin sama anak lain. Dhilla itu keras , cuek , santai tapi
kalo ada temanya yang membutuhkan bantuan langsung bakalan dia bantu gak peduli
dalam keadaan sulit sekalipun. Jadi, kalo Dhilla bilang dia baik-baik aja ,
pasti dia baik-baik aja. Masalah ada sesuatu yang harus dia kerjain, itu bukan
masalah kalo Dhilla ga minta bantuan ama temen-temennya.
Dhilla menangkap gelagat mencurigakan dari teman-tamannya. Mereka saling
berbisik satu sama lain. Sampai akhirnya Ega angkat bicara , “ Dhill , kita ke
kelas duluan ya ?”
Dhilla mengangkat satu alisnya tanda bingung , tapi tak lama setelah itu
ekspresinya kembali datar. “Gue ikut” katanya.
“Jangan!!!” Ega dan Rara spontan menjerit bersamaan.
“Lo pada kenapa sih ?” tanya Dhilla yang merasa aneh sama sikap temen-temennya.
“Gak kog , kita gak papa. Ya udah , kita balik dulu ya ?” kata Ega yang
langsung ngeloyor pergi diikuti Rara.
Dhilla baru mengerti apa yang sedang terjadi saat Andry yang dia sendiri baru
sadar kalau duduknya berseberangan dengan mejanya mulai menghampirinya. “Sialan
lo pada !” umpat Dhilla dalam hati.Dia sedang tidak ingin bertemu Andry saat
ini.Akhir-akhir ini dia merasa Andry terlalu sempurna untuknya . Sempat dia
berfikir untuk mengakhiri saja hubungannya dengan Andry. Tapi dia juga merasa
belum sanggup untuk kehilangan dirinya.
Andry telah sampai dan duduk di hadapan Dhilla. Dan seperti biasanya kalau
Dhilla ketemu Andry, dia cuma nunduk , belum berani mengangkat wajah kalau
Andry belum memanggil namanya. Hal inilah yang disukai Andry dari Dhilla, nggak
seperti cewek lain yang langsung bergelayut manja begitu ketemu pacarnya.
“Tya . . .” panggil Andry. Andry memang memanggil cewek pujaan hatinya ini
dengan Tya yang diambil dari nama aslinya Dhilla Septian Safitri.
Dhilla alias Tya mengangkat wajahnya. “Iya An. . .” Jawab Tya
“Kamu nanti ada acara ?”
Tya kelihatan serius berfikir , dia bimbang antara manjawab ya dan tidak. “Iya
ada.”
Hati Andry serasa ditusuk-tusuk begitu mendengar jawaban dari Tya. ‘Apa Tya
lupa? Mungkinkah?’ batin Andry. “Tya mau kemana?”
“Dimintai tolong sama Dio buat nganterin dia ke mall beli kado buat ibunya.”
Jawab Tya dengan tanpa beban sedikitpun, membuat Andry merasa muntab, tapi ia
tidak bisa kalo harus marah didepan Tya.
‘Kamu bener-bener lupa ya Tya ?’
batin Andry. Hatinya mencelos membayangkan sang kekasih bersama cowok lain.
“Oh gitu , ya udah , jaga diri baik-baik ya kalo lagi sama Dio” kata Andry
akhirnya . Iapun berdiri dan beranjak pergi meninggalkan Tya yang sedang
terunduk , tak mampu berkata-kata untuk mencegah kepergian Andry.
‘Maafkan Tya , bukan maksud Tya buat nyakitin Andry , suatu saat Andry akan tau
kenapa Tya berbuat seperti ini ke Andry. Sekali lagi maafin Tya’ batin Tya ,
ingin rasanya ia menangis tapi malu kalau nanti seisi kantin tau dia
menangis.Akhirnya Tyapun memutuskan untuk kembali ke kelas.
. . .
“ Lo ga Lagi manfaatin gue kan ?” Tanya Dio
Saat ini Dhilla sama Dio sedang melihat-lihat benda
benama kalung di konter perhiasan. Dhilla Cuma memandang sekilas ke Dio ,
setelah itu Dia kembali konsentrasi untuk memilih kalung yang akan
dipersembahkan Dio di ulang tahun mamanya.
“Mending lo cepetan mutusin mau beli kalung yang mana , biar kita bisa cepat
pulang , lagian kalo lo gue manfaatin ga salah kok” Jawab Dhilla tanpa melihat
Dio sedikitpun.
“Apa maksud lo bilang gitu ?”
“Lo kan sodara gue , jadi memanfaatkan sodara itu juga gag salah ko asal ga
keterlaluan , iya kan ?”
“Tapi gue butuh alasan kenapa lo manfatin gue ? Ntar kalo Andry ngasih bogem ke
gue gara-gara gue ngajakin lo keluar gimana ?”
“Dia udah tau.”
“Trus ga marah gitu?”
“Nggak.”
“Lo Lagi ada masalah sama dia ?”
“Nggak.”
“Terus ?”
“Lo cerewet banget sih ? gue aja yang cewek nggak secerewet Lo!”
“La, beneran nih , Lo lagi ada masalah ama Andry kan ?”
“Oh Dio yang terhormat , berapa kali gue harus bilang ke elo , GUE NGGAK ADA
MASALAH SAMA ANDRY , Lo nggak tuli kan ?”
Dhilla nggak peduli kalaupun mbak-mbak di konter perhiasan pada
ngliatin ke arah mereka. ‘Bodo amat’
pikir Dhilla.
“Oh oke , lo lagi nggak ada masalah sama Andry, sekarng ga usah
ngambek lagi , malu diliatin orang” kata Dio hampir seperti bisikan bagi
Dhilla. Dio malu setengah mati dikatain Dhilla kaya gitu di depan banyak orang
, tapi Dhilla nya cuek bebek.
“Nih bagus , beli yang ini aja” Kata Dhilla sambil menunjuk ke
arah sebuah kalung yang memang bagus juga menurut Dio. Saat Dio sedang
bertransaksi sama pelayan konter , hp Dhilla berbunyi . Dio tak tau telepon
dari siapa karena Dhilla menjauh dari konter saat menerima telepon. Dio selesai
bertransaksi bersamaan dengan berakhirnya telepon antara Dhilla dan temannya
yang telepon itu. Mereka lalu pulang.
Yang dilakukan Dhilla di mobil sepanjang perjalanan pulang hanya melamun .
Matanya menerawang jauh ke tempat yang tak bisa dijangkau Dio.
“Lo kenapa ?” Tanya Dio
“Gue boleh minta tolong nggak , balas budi lah Di?” Jawab Dhilla setengah
melamun. Firasat Dio mengatakan ada yang tidak beres.
“Apa ?” Tanya Dio Lagi , Dhilla tak segera menjawab , matanya masih menerang
jauh tak terjangkau. Dhilla saat ini bukan seperti Dhilla yang biasanya ,
‘Ini siapa ya? Masa Dhilla bisa kaya gini
?’ Dio bertanya-tanya sendiri.
“Lo baik-baik aja kan?” Tanya Dio mulai khawatir saat Dhilla tak kunjung
mengatakan permintaanya tapi Dhilla hanya tersenyum.
“Andry ngajak putus.” Kata Dhilla akhirnya , saat itu juga buliran air
mata mengalir di pipinya yang putih. Dio diam saja , ia sengaja berbuat begitu
karena ia tau Dhilla akan meneruskan kata-katanya tanpa harus ditanya dulu,
lagian bertanya hanya akan memperburuk suasana. “Aku sengaja lupa sama hari
ultahnya karena aku ingin memberi kejutan sama dia , aku keluar sama kamu juga
sebagian dari rencana aku untuk ngasih kejutan ke dia , dia sebenarnya marah
besar saat tau hal itu , tapi dia nggak marah di depanku , dia hanya diam , dan
bilang hati-hati , aku pikir dia bisa mengerti karena kamu sodaraku , aku lupa
kalo dia belum tau kalo kamu sodaraku , dan tadi . . . tadi . . . dia bilang
putus , dia . . . dia bilang kalo . . . kalo lebih baik aku sama kamu aja , dia
nggak mau ngerti bagaimana pun aku menjelaskan keadaannya , dia nggak mau
terima”
Ada yang janggal dari penjelasa Dhilla , ‘ Masa
Andry masih tetep nggak mau terima keadaan kalo tau gue sodara Dhilla ?’
pikir Dio , atau jangan-jangan , “Lo nggak ngasih tau ke Andry kalo gue sodara
lo ?”
“Nggak.”
“Lo itu stres ya ? Pantesan aja Andry nggak mau terima , lo nggak bilang sih ,
sini mana hape lo biar gue yang ngasih tau dia”
“Nggak usah.”
“Terus mau lo gimana ? Lo nggak berpikir putus sama Andry kan?”
“Ya nggak lah , gue mau minta tolong , Lo mau kan ?”
. . .
Andry sedang duduk-duduk di teras rumahnya saat Dio berkunjung ke rumahnya.
Wajah Andry sekusut Dhilla , pikirannya tak menjejak bumi sama sepeti ketika
Dio melihat Dhilla terakhir kali.
“Mau apa ?” Tanya Andry , dengan suara yang mendekati bisikan angin , sangat
lirih.
“Gue mau ngasih ini” Jawab Dio sambil menyerahkan bingkisan ke Andry . “Itu
dari Dhilla , hadiah ultah lo yang belim sempet dia serahin ke lo karena kalian
keburu putus. Dia minta maaf ke elo karena lupa , pura-pura lupa sebenarnya
sama ultah lo , dia mau ngasih kejutan tapi ternyata keduluan lo mutusin dia ,
dia nggak mau gue ajak kesini , katanya belum sanggup ketemu lo setelah
kalian nggak ada hubungan lagi. Oh iya , gue nggak pengen lama-lama tapi
sebelum gue pulang gue mau ngasih tau elo kalo gue itu sodaranya Dhilla , jadi
jangan pernah berpikir kalo dibelakang lo gue ada apa-apa sama Dhilla. Udah
gitu aja , gue pulang dulu , lo pikir-pikir dulu , belum terlambat kalo lo mau
balik sama Dhilla.”
Dio meninggalkan Andry yang duduk termenung sambil memegang bingkisan dari
Tya-nya. Pelan-pelan dia buka bingkisan itu , isinya ternyata rajutan syal yang
bertuliskan namanya , Andry.Andry memandang nanar syal di depannya , ini alasan
kenapa Tya-nya akhir-akhir ini selalu telat ke sekolah karena bangun kesiangan
. Kalo malam ternyata Tya merajut syal untuknya . Tiba-tiba perasaan menyesal
datang , ia merasa bersalah , ternyata Tya sayang padanya , ternyata Tya tidak
seperti dugaannya , lagipula ternyata Dio yang membuatnya cemburu hingga
membuatnya memutus Tya adalah sodaranya Tya. Andry ingin menghubungi Tya.
Ia ingin minta maaf , ia sebenarnya juga tak sanggup kehilangan Tya , ia ingin
mengatakan kalo ia juga sayang sama Tya , ia ingin kembali , kembali memiliki
bidadarinya. ‘Tya maafkan aku , semoga
kamu mau menerimaku kembali , aku sayang kamu , kamu bidadariku’. Andry
ingin sesegera mungkin sampai di kamarnya , ia sudah tak sabar ingin
menghubungi Tya. Ia sudah tak sabar menanti jawaban Tya , akankah ia
menerimanya kembali atau tidak. ‘Tya aku
sayang kamu’.
0 komentar:
Posting Komentar