Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Jumat, 22 Februari 2013

Untukmu . . .


                “ Adudududuh , sakit pak !!! “ ujar Dhilla saat sebuah tangan sukses menjewer telinganya. “ Ampun pak , ampun ! “ tambahnya.
                “ Sudah berapa kali kamu telat selama seminggu ini ? “ tanya Pak Jarwo.
                “ E . . . . E . . . .E . . . . Enam pak . “ jawab Dhilla dan tangan yang masih menjewer  telinganya  semakin menekan jewerannya hingga pipi Dhilla seperti tomat rebus . Kontan Dhilla meringis kesakitan.
                Pak Jarwo melepaskan tangannya dari telinga Dhilla kemudian mengambil buku berwarna hijau yang ada di kursi didekat tempat berdirinya Dhilla . “ Cepat diisi . Lihat poin yang sudah kamu kumpulkan selama satu minggu ini ! Sekali lagi kamu terlambat bersiaplah untuk skors selama satu minggu ! “ . Pak Jarwo mengingatkan Dhilla bahwa dalam satu minggu ini Dhilla sukses mencetak 60 poin .
                “ Iya pak  . . . “ . Dhilla bergegas mengeluarkan pulpen dari tasnya dan mengisi buku hijau yang diberikan Pak jarwo . ‘ Gila bener ! masak gue udah nyetak poin sebanyak ini seh ? Dalam satu minggu pula ! parah bener !!! ‘batin Dhilla . Setelah selesai , buku itu diserahkan pada Pak Jarwo . Dhilla menimang-nimang kira-kira hukuman apa yang akan diberikan Pak Jarwo padanya .
                “ lari keliling lapangan basket 5 kali . “ kata Pak Jarwo .
                Mata Dhilla langsung nanar melihat lapangan basket didepannya .     
       
                                                                               . . .
                “ Emang lo kalau malem ngapain aja si La ?” Tanya Ega.
                “Nonton tipi.” Jawab Dhilla asal.
                “Lo nonton tipi ? Gag salah nih ? Sejak kapan lo suka nonton tipi ? Bukannya lo itu salah satu makhluk pembenci tipi ya Dhill ?” gentian Rara yang angkat bicara.
                “Eh lo diem aja , gag usa ikut-ikut nimbrung. Lanjutin aja tuh acara makan lo.” kata Dhilla yang kontan langsung dipelototin Rara . Tapi ujung-ujungnya Rara nerusin acara makannya juga.
                “ Beneran deh Dhill , lo kalau malem ngapain aja sih ? Gak kayak biasanya lo. Apalagi lo udah nyiptain 60 poin dalam satu minggu , bener-bener bukan lo deh.” Kata Ega yang mulai merasa ada yang ga beres sama Dhilla.
                “Lo tenang aja . Gue gak kenapa-kenapa. Masalah poin udahlah gak usah dipikir , bentar lagi juga lebur. Terus masalah kalo malem gue ngapain aja itu ada yang gue kerjain , lo pada gak usah tau.” Kata Dhilla
                 Ega langsung bungkam mulut. Ega tau sifat Dhilla yang ga suka kalo ada urusannya yang dicampurin sama anak lain. Dhilla itu keras , cuek , santai tapi kalo ada temanya yang membutuhkan bantuan langsung bakalan dia bantu gak peduli dalam keadaan sulit sekalipun. Jadi, kalo Dhilla bilang dia baik-baik aja , pasti dia baik-baik aja. Masalah ada sesuatu yang harus dia kerjain, itu bukan masalah kalo Dhilla ga minta bantuan ama temen-temennya.
                 Dhilla menangkap gelagat mencurigakan dari teman-tamannya. Mereka saling berbisik satu sama lain. Sampai akhirnya Ega angkat bicara , “ Dhill , kita ke kelas duluan ya ?”
                 Dhilla mengangkat satu alisnya tanda bingung , tapi tak lama setelah itu ekspresinya kembali datar. “Gue ikut” katanya.
                 “Jangan!!!” Ega dan Rara spontan menjerit bersamaan.
                 “Lo pada kenapa sih ?” tanya Dhilla yang merasa aneh sama sikap temen-temennya.
                 “Gak kog , kita gak papa. Ya udah , kita balik dulu ya ?” kata Ega yang langsung ngeloyor pergi diikuti Rara.
                  Dhilla baru mengerti apa yang sedang terjadi saat Andry yang dia sendiri baru sadar kalau duduknya berseberangan dengan mejanya mulai menghampirinya. “Sialan lo pada !” umpat Dhilla dalam hati.Dia sedang tidak ingin bertemu Andry saat ini.Akhir-akhir ini dia merasa Andry terlalu sempurna untuknya . Sempat dia berfikir untuk mengakhiri saja hubungannya dengan Andry. Tapi dia juga merasa belum sanggup untuk kehilangan dirinya.
                  Andry telah sampai dan duduk di hadapan Dhilla. Dan seperti biasanya kalau Dhilla ketemu Andry, dia cuma nunduk , belum berani mengangkat wajah kalau Andry belum memanggil namanya. Hal inilah yang disukai Andry dari Dhilla, nggak seperti cewek lain yang langsung bergelayut manja begitu ketemu pacarnya.
                  “Tya . . .” panggil Andry. Andry memang memanggil cewek pujaan hatinya ini dengan Tya yang diambil dari nama aslinya Dhilla Septian Safitri.
                  Dhilla alias Tya mengangkat wajahnya. “Iya An. . .” Jawab Tya
                  “Kamu nanti ada acara ?”
                  Tya kelihatan serius berfikir , dia bimbang antara manjawab ya dan tidak. “Iya ada.”
                  Hati Andry serasa ditusuk-tusuk begitu mendengar jawaban dari Tya. ‘Apa Tya lupa? Mungkinkah?’ batin Andry. “Tya mau kemana?”
                  “Dimintai tolong sama Dio buat nganterin dia ke mall beli kado buat ibunya.” Jawab Tya dengan tanpa beban sedikitpun, membuat Andry merasa muntab, tapi ia tidak bisa kalo harus marah didepan Tya.
                  ‘Kamu bener-bener lupa ya Tya ?’ batin Andry. Hatinya mencelos membayangkan sang kekasih bersama cowok lain.
                   “Oh gitu , ya udah , jaga diri baik-baik ya kalo lagi sama Dio” kata Andry akhirnya . Iapun berdiri dan beranjak pergi meninggalkan Tya yang sedang terunduk , tak mampu berkata-kata untuk mencegah kepergian Andry.
                   ‘Maafkan Tya , bukan maksud Tya buat nyakitin Andry , suatu saat Andry akan tau kenapa Tya berbuat seperti ini ke Andry. Sekali lagi maafin Tya’ batin Tya , ingin rasanya ia menangis tapi malu kalau nanti seisi kantin tau dia menangis.Akhirnya  Tyapun memutuskan untuk kembali ke kelas.
                                                                              . . .

                    “ Lo ga Lagi manfaatin gue kan ?” Tanya Dio
Saat ini Dhilla sama Dio sedang melihat-lihat benda benama kalung di konter perhiasan. Dhilla Cuma memandang sekilas ke Dio , setelah itu Dia kembali konsentrasi untuk memilih kalung yang akan dipersembahkan Dio di ulang tahun mamanya.
                    “Mending lo cepetan mutusin mau beli kalung yang mana , biar kita bisa cepat pulang , lagian kalo lo gue manfaatin ga salah kok” Jawab Dhilla tanpa melihat Dio sedikitpun.
                    “Apa maksud lo bilang gitu ?”
                    “Lo kan sodara gue , jadi memanfaatkan sodara itu juga gag salah ko asal ga keterlaluan , iya kan ?”
                   “Tapi gue butuh alasan kenapa lo manfatin gue ? Ntar kalo Andry ngasih bogem ke gue gara-gara gue ngajakin lo keluar gimana ?”
                   “Dia udah tau.”
                   “Trus ga marah gitu?”
                   “Nggak.”
                   “Lo Lagi ada masalah sama dia ?”
                   “Nggak.”
                   “Terus ?”
                   “Lo cerewet banget sih ? gue aja yang cewek nggak secerewet Lo!”
                   “La, beneran nih , Lo lagi ada masalah ama Andry kan ?”
                   “Oh Dio yang terhormat , berapa kali gue harus bilang ke elo , GUE NGGAK ADA MASALAH SAMA ANDRY , Lo nggak tuli kan ?”
                     Dhilla nggak peduli kalaupun mbak-mbak di konter perhiasan pada ngliatin ke arah mereka. ‘Bodo amat’ pikir Dhilla.
                     “Oh oke , lo lagi nggak ada masalah sama Andry, sekarng ga usah ngambek lagi , malu diliatin orang” kata Dio hampir seperti bisikan bagi Dhilla. Dio malu setengah mati dikatain Dhilla kaya gitu di depan banyak orang , tapi Dhilla nya cuek bebek.
                     “Nih bagus , beli yang ini aja” Kata Dhilla sambil menunjuk ke arah sebuah kalung yang memang bagus juga menurut Dio. Saat Dio sedang bertransaksi sama pelayan konter , hp Dhilla berbunyi . Dio tak tau telepon dari siapa karena Dhilla menjauh dari konter saat menerima telepon. Dio selesai bertransaksi bersamaan dengan berakhirnya telepon antara Dhilla dan temannya yang telepon itu. Mereka lalu pulang.
                    Yang dilakukan Dhilla di mobil sepanjang perjalanan pulang hanya melamun . Matanya menerawang jauh ke tempat yang tak bisa dijangkau Dio.
                    “Lo kenapa ?” Tanya Dio
                    “Gue boleh minta tolong nggak , balas budi lah Di?” Jawab Dhilla setengah melamun. Firasat Dio mengatakan ada yang tidak beres.
                    “Apa ?” Tanya Dio Lagi , Dhilla tak segera menjawab , matanya masih menerang jauh  tak terjangkau. Dhilla saat ini bukan seperti Dhilla yang biasanya , ‘Ini siapa ya? Masa Dhilla bisa kaya gini ?’ Dio bertanya-tanya sendiri.
                    “Lo baik-baik aja kan?” Tanya Dio mulai khawatir saat Dhilla tak kunjung mengatakan permintaanya tapi Dhilla hanya tersenyum.
                    “Andry ngajak putus.” Kata Dhilla akhirnya , saat  itu juga buliran air mata mengalir di pipinya yang putih. Dio diam saja , ia sengaja berbuat begitu karena ia tau Dhilla akan meneruskan kata-katanya tanpa harus ditanya dulu, lagian bertanya hanya akan memperburuk suasana. “Aku sengaja lupa sama hari ultahnya karena aku ingin memberi kejutan sama dia , aku keluar sama kamu juga sebagian dari rencana aku untuk ngasih kejutan ke dia , dia sebenarnya marah besar saat tau hal itu , tapi dia nggak marah di depanku , dia hanya diam , dan bilang hati-hati , aku pikir dia bisa mengerti karena kamu sodaraku , aku lupa kalo dia belum tau kalo kamu sodaraku , dan tadi . . . tadi . . . dia bilang putus , dia . . . dia bilang kalo . . . kalo lebih baik aku sama kamu aja , dia nggak mau ngerti bagaimana pun aku menjelaskan keadaannya , dia nggak mau terima”
                    Ada yang janggal dari penjelasa Dhilla , ‘ Masa Andry masih tetep nggak mau terima keadaan kalo tau gue sodara Dhilla ?’ pikir Dio , atau jangan-jangan , “Lo nggak ngasih tau ke Andry kalo gue sodara lo ?”
                   “Nggak.”
                   “Lo itu stres ya ? Pantesan aja Andry nggak mau terima , lo nggak bilang sih , sini mana hape lo biar gue yang ngasih tau dia”
                   “Nggak usah.”
                   “Terus mau lo gimana ? Lo nggak berpikir putus sama Andry kan?”
                   “Ya nggak lah , gue mau minta tolong , Lo mau kan ?”
                                                                                 . . .
                   Andry sedang duduk-duduk di teras rumahnya saat Dio berkunjung ke rumahnya. Wajah Andry sekusut Dhilla , pikirannya tak menjejak bumi sama sepeti ketika Dio melihat Dhilla terakhir kali.
                   “Mau apa ?” Tanya Andry , dengan suara yang mendekati bisikan angin , sangat lirih.
                   “Gue mau ngasih ini” Jawab Dio sambil menyerahkan bingkisan ke Andry . “Itu dari Dhilla , hadiah ultah lo yang belim sempet dia serahin ke lo karena kalian keburu putus. Dia minta maaf ke elo karena lupa , pura-pura lupa sebenarnya sama ultah lo , dia mau ngasih kejutan tapi ternyata keduluan lo mutusin dia , dia nggak mau gue ajak kesini  , katanya belum sanggup ketemu lo setelah kalian nggak ada hubungan lagi. Oh iya , gue nggak pengen lama-lama tapi sebelum gue pulang gue mau ngasih tau elo kalo gue itu sodaranya Dhilla , jadi jangan pernah berpikir kalo dibelakang lo gue ada apa-apa sama Dhilla. Udah gitu aja , gue pulang dulu , lo pikir-pikir dulu , belum terlambat kalo lo mau balik sama Dhilla.”
                    Dio meninggalkan Andry yang duduk termenung sambil memegang bingkisan dari Tya-nya. Pelan-pelan dia buka bingkisan itu , isinya ternyata rajutan syal yang bertuliskan namanya , Andry.Andry memandang nanar syal di depannya , ini alasan kenapa Tya-nya akhir-akhir ini selalu telat ke sekolah karena bangun kesiangan . Kalo malam ternyata Tya merajut syal untuknya . Tiba-tiba perasaan menyesal datang , ia merasa bersalah , ternyata Tya sayang padanya , ternyata Tya tidak seperti dugaannya , lagipula ternyata Dio yang membuatnya cemburu hingga membuatnya memutus Tya  adalah sodaranya Tya. Andry ingin menghubungi Tya. Ia ingin minta maaf , ia sebenarnya juga tak sanggup kehilangan Tya , ia ingin mengatakan kalo ia juga sayang sama Tya , ia ingin kembali , kembali memiliki bidadarinya. ‘Tya maafkan aku , semoga kamu mau menerimaku kembali , aku sayang kamu , kamu bidadariku’. Andry ingin sesegera mungkin sampai di kamarnya , ia sudah tak sabar ingin menghubungi Tya. Ia sudah tak sabar menanti jawaban Tya , akankah ia menerimanya kembali atau tidak. ‘Tya aku sayang kamu’.

0 komentar:

Posting Komentar