Malam ini suasana Gedung Basket Senayan, Jakarta,
tampak penuh sesak. Puluhan penonton tampak masuk ke tengah lapangan. Penonton
itu sebagian besar adalah supporter tim basket putri SMA Altavia, yang baru
saja memastikan dirinya sebagai yang terbaik dalam Turnamen Bola Basket Antar-
SMA Se-Jawa-Bali.
Penghuni SMA Altavia kini sedang
bergembira karena kemenangan ini di peroleh karena hasil perjuangan berat dan
merupakan prestasi tertinggi tim basket SMA Altavia. Kemenangan tim basket
putri SMA Altavia tidak luput dari perjuangan Vira. Dalam turnamen ini, Vira
menyumbangkan angka terbanyak untuk kemenangan timnya, sehingga gelar Juara
Turnamen Bola Basket se-Jawa-Bali di sanding oleh sekolahnya. Selain gelar
juara tersebut, Vira juga menyandang predikat sebagai MVP alias pemain
terbaik dan Top Score.
Vira merupakan “top girl” di
sekolah. Statusnya yang ketua geng putri The Roses, atlet basket andalan
sekolah, dan pengurus OSIS bidang olahraga membuatnya jadi “orang paling
berpengaruh”, paling tidak di kalangan putri. Belum lagi kedekatannya dengan Robi, putra ketua
yayasan yang menaungi SMA Altavia, membuat Vira seakan jadi “Ratu” di sini.
Pesta, clubbing, jalan-jalan di mal, shopping, dan
sederet kegiatan fun lainnya merupakan kegiatan rutin The Roses. Geng yang
beranggotakan Vira, Stella, Diana, Amel, dan Lisa biasa disebut “penguasa”
SMA Altavia. Kelima anggota geng ini mempunyai latar belakang keluarga yang
berbeda-beda, dank arena perbedaan itu The Rose dianggap paling powerfull.
Geng yang mempunyai motto “BE PARTY, BE HAPPY!” tidak pernah
mundur dari acara-acara pesta ulang tahun, yang intinya senang-senang….
Entah bermula darimana, hidup Vira kini berubah karena
tuduhan yang di terima oleh Papa Vira, sehingga menyebabkan Papa Vira harus
mendekam di balik jeruji besi dengan waktu yang cukup lama, bahkan menyebabkan
semua harta keluarganya yang di anggap mahal juga ikut tersita oleh Kejaksaan. Karena peristiwa itu, kini Vira
dan Mama-nya harus tinggal di sebuah komplek perumahan yang sederhana di daerah
Bandung Timur. Selain nasib yang menimpanya itu, Vira juga terpukul atas apa
yang telah di perbuat oleh Stella, Lisa, dan Diana, teman-teman yang dekat
dengan nya kini menjauhinya, terkecuali Amel. Bahkan, Amel juga diancam oleh
Stella, Lisa dan Diana untuk ikut memusuhi Vira dan sebagai ancamannya bila
Amel tidak mau mengikuti kemuan ketiga temannya itu, Amel akan di buat tidak
kerasan bila berada di sekolah. Vira kecewa atas perbuatan ketiga sahabatnya
yang meninggalkan itu. Vira berpikir dan merasa heran melihat perbuatan mereka.
Ketika mereka bersama, suka dan duka mereka bersama – sama, mereka saling
menolong dalam kegiatan apapun. Bahkan bila mereka sedang dalam kesusahan
sekalipun, Vira tidak segan – segan untuk membantu mereka. Namun, saat-saat
seperti ini, saat Vira sedang membutuhkan bantuan, dukungan serta kerjasama dari
sahabat – sahabatnya itu, mereka malah meninggalkan dan memusuhi Vira. Karena
perbuatan sahabat – sahabatnya itu, Vira berpikir bahwa ungkapan – ungkapan
tentang persahabatan yang dulu sering ia dapat dari sahabat – sahabatnya itu
adalah bohong dan
bualan semata. Vira juga berpikir, sahabat macam apa mereka itu? Mereka selalu
mementingkan ego masing – masing, mereka juga selalu ingin menang sendiri.
Sejak peristiwa tuduhan yang menimpa Papanya serta perbuatan
sahabat-sahabatnya, Vira telah berubah. Vira kini
menjadi anak yang tertutup, ia juga tidak pernah merawat rambutnya yang kini
telah mencapai bahu, selain itu Vira kini juga membenci basket yang sudah mendarah
daging dalam diri Vira hingga Vira bertemu dengan Niken, Ketua OSIS di
SMA-nya yang baru sekaligus anak seorang penjual krupuk langganan Mama Vira.
Akhir tahun pelajaran ini, SMA 31 akan mengadakan
penghapusan ekstra yang ada dan yang dianggap tidak dapat menunjukkan prestasi
yang membanggakan sekolah. Kini Niken disibukkan mengadakan penilaian terhadap
kegiatan-kegiatan yang ada di SMA 31. Entah mengapa kini Niken sedang berusaha
agar ekskul Basket tidak di hapus dari sekolah. Keinginannya untuk menunjukkan
kemampuan tim basket SMA 31 itu di perkuatnya dengan rencana keikutsertaan tim
basket SMA 31 di Turnamen Bola Basket Antar-SMA Se-Bandung Raya.
Niken yang semula berjanji akan membantu Mama Vira
untuk mengembalikan keceriaan putri semata wayangnya itu menggunakan kesempatan
ini dengan baik. Niken yang awalnya berusaha untuk mendekati Vira dan selalu mendapat
sambutan dingin tidak pantang menyerah. Hampir setiap hari Niken selalu datang
ke rumah Vira untuk membujuk Vira agar mau bergabung dengan tim basket SMA 31,
tapi berulang kali juga di tolak oleh Vira. Walau berulang kali di tolak oleh
Vira, tapi Niken tidak pernah capek untuk lebih dekat dengan cewek yang
dianggap misterius di sekolahnya itu. Perjuangan Niken akhirnya
membuahkan hasil, kini Vira mulai terbuka terhadap Niken. Suatu sore Vira di
minta tolong oleh Mamanya untuk mengantarkan uang ke rumah Niken, sesampainya
di rumah Niken, bukan Niken yang dia temui tapi kakak Niken, Kak Aji. Kak Aji
kuliah di University of Sydney, Australia.
Sepulangnya dari rumah Niken,
Vira bersama Niken melewati lapangan basket yang ada di dekat komplek rumah
Vira, Niken berubah arah menuju ke tengah lapangan yang kosong. Di tengah
lapangan, Niken mengeluarkan bola basket yang tadi di sembunyikannya di dalam
tas ransel yang di bawanya. Niken meminta Vira agar mau mengajarinya bermain
basket, tapi permintaannya itu ditolak mentah-mentah oleh Vira, dan
meninggalkan Niken sendiri.
Sepulangnya dari rumah Niken,
wajah Vira tampak murung. Hal itu membuat Mama Vira penasaran dan mencoba untuk
menanyakannya kepada putrinya. Pada kesempatan itu, Mama Vira menceritakan sedikit
tentang kehidupan Niken yang jauh lebih menyedihkan daripada kehidupannya saat
ini. Mama Vira kagum kepada Niken karena pada saat Niken duduk di bangku SMP,
kesusahan yang kini melanda keluarga Vira sebelumnya telah dirasakan oleh
Niken, bahkan lebih susah daripada keluarga Vira. Saat itu Ayah Niken ditupu
oleh rekan bisnisnya yang menyebabkan semua hartanya disita oleh bank, bukan
hanya itu, karena stress Ayah Niken lalu bunuh diri dan itu membuat Niken dan
kakaknya terpukul. Namun, lambat laun Niken dapat kembali lagi ceria dan selalu
menghadapi hidup ini dengan gembira.
Mendengar cerita tentang keluarga
Niken membuat hati Vira tercenung, namun Vira sungguh belum siap untuk kembali
menjadi Vira yang dulu. Mamanya juga berpesan bahwa persahabatan sejati itu
masih ada, dan kita butuh sahabat untuk membantu kamu. Itu terbukti dari
pengalaman Niken sehingga dia bisa melewati masa-masa sulitnya terdahulu., itu
semua juga ada sahabat yang selalu membantu mengembalikan semangat hidupnya.
Setelah lama tidak bertemu dengan
teman-teman di sekolahnya dulu, kini Vira telah bertemu dengan Amel, Amel
memang sahabat satu-satunya yang di miliki oleh Vira yang berasal dari SMA
Altavia. Kini, Vira dikagetkan oleh kedatangan Diana, teman yang dulu ikut-ikut
mengejek dan merendahkan Vira saat Vira dikeluarkan dari sekolah. Kedatangan
Diana ke rumah Vira membuat rasa sakit hati yang belum juga hilang itu
terkelupas dan mengingatkan Vira akan kejadian di SMA Altavia. Vira sempat
merasa heran akan kedatangan Diana ke rumahnya yang hanya untuk mengatakan
bahwa dia “hamil”. Mengapa Diana tidak datang ke tempat
sahabat-sahabatnya, Stella dan Lisa, justru Diana datang kepada Vira yang
jelas-jelas bukan sahabatnya lagi.
Saat Diana datang kepada Stella
dan Lisa, justru bukan jawaban yang tepat yang didapatkan oleh Diana. Justru
jawaban yang tidak menyelesaikan masalah dan membantu. Stella dan Lisa hanya
berteman pada saat mereka bersenang-senang saja dan giliran temannya susah,
mereka tidak pernah mau membantu dan tidak ingin tahu. Bayangkan saja betapa
kejamnya Stella dan Lisa, mereka berdua menyuruh Diana untuk aborsi.
Mendengar itu semua, hati Vira yang tadi sedingin es batu berubah menjadi rasa
belas kasihan. Hal yang lebih mengagetkan lagi adalah saat ditanya siapa Ayah
dari anak yang dikandung oleh Diana, Diana tidak dapat menjawabnya bahkan dia
bingung harus mengatakan siapa saja pria yang dekat dengannya.
Setelah kedatangannya di hari
Minggu, Vira tidak pernah lagi mendengar kabar tentang kehamilan Diana. Hingga
suatu pagi Vira di kagetkan oleh telepon yang berasal dari Diana. Di telepon
tersebut, Diana dituduh telah mempermalukan nama baik sekolah dan karena hal
itu Diana mempunyai niat untuk lebih mempermalukan sekolahnya itu. Kata-kata
Diana di akhir telepon membuat Vira heran dan penasaran. Keheranan yang ada di
benak Vira terjawab sudah, setelah menelpon Vira, HP Diana dilempar dulu ke
bawah dan barulah dirinya menyusul HPnya, dengan terjun ke bawah. Kematian
Diana membuat Vira terpukul dan menganngap ini semua karena sikapnya yang tak
acuh saat Diana datang kepadanya, hingga Vira mengurung dirinya selama 2 hari
di kamarnya. Diana merupakan anggota The Roses yang paling dekat dengan Vira
setelah Amel. Tapi betapa beruntungya Vira saat mendengar bahwa Diana menunjuk
dia sebagai sahabat terbaiknya.
Suatu sore, Niken berada
sendirian di lapangan basket dekat rumanhnya, dia berusaha berlatih basket
sendiri karena Vira tidak mau mengajarinya. Saat dia akan melempar bola,
tiba-tiba terdengar suara Vira yang memberikan instruksi cara melempar bola ke
ring. Niken yang kaget kini tercengang melihat kedatangan Vira. Hati Niken
begitu gembira, karena Vira mau bergabung bersama tim basket SMA 31.
Anak-anak basket SMA 31 terkejut
dengan kedatangan Vira, karena rambut Vira yang panjang telah di potongnya
menjadi pendek. Karena rambut baru nya, wajah Vira tampak lebih fresh
dan membuatnya kelihatan lebih tinggi dan langsing. Masuknya Vira sebagai tim
inti basket cewek mengundang protes dari kapten tim dan beberapa anak lain.
Mereka tidak terima Vira bergabung dengan tim basket tidak melalui seleksi,
namun semua anggota tim basket tercengang saat melihat kemampuan Vira yang
mempunyai skill tinggi itu memasukkan bola ke dalam ring dengan mulus.
Sejak latihan hari itu, Vira kembali menjadi dirinya yang dulu dan membantu tim
basket SMA 31 menghadapi lawan-lawan di pertandingan persahabatan yang tidak
pernah di ungguli oleh SMA 31.
Dengan bergabungnya Vira di dalam
tim basket SMA 31, Vira menjadi dekat dengan ketua tim basket SMA 31, Rei.
Sekembalinya Vira ke dunia basket membuat Vira dapat pulih seperti Vira yang
dulu. Selain itu, untuk mengasah kemampuannya bermain basket, setiap malam
minggu Vira bersama dengan Rei mengikuti pertandingan streetball.
Awalnya Vira agak kurang yakin dengan permainan ini karena sebelumnya ia belum
pernah mencobanya dan agak kagok karena ia harus bermain bersama cowok, namun
lama kelamaan Vira menyukai permainan itu hingga Vira dapat menjadi favorit
penonton di permainan ini. Hampir setiap malam minggu Vira dan Rei bermain
streetball, dan entah dari siapa Niken mengetahui hal itu dan ia menunjukkan
sikap yang aneh di depan teman-teman.
Suatu sore, tim basket SMA 31
melakukan pertandingan persahabatan antara SMA 23, sebagai tuan rumah. Dalam
pertandingan ini SMA 31 unggul daripada SMA 23 dengan skor yang cukup baik,
tapi kemenangan tim SMA 31 mendapat sambutan yang tidak baik dari anggota tim.
Perpecahan terjadi diantara Vira dan Rida, sebagai kapten tim basket cewek yang
tidak terima karena Rei lebih membela Vira sebagai anak baru daripada Rida.
Sejak pertandingan itu, Vira dan Rei telah menyusun rencana tentang
keikutsertaan tim basket sekolah mereka dalam Turnamen Bola Basket Antar-SMA
Se-Bandung Raya. Karena pertengkaran antara Vira dan Rida tak kunjung reda,
Vira memberanikan diri untuk datang ke rumah Rida. Kedatangan Vira ke rumah Rida mendapat sambutan dingin
dari Rida, tapi Vira tetap memaksa Rida agar Rida mau ikut dengannya ke tempat
yang dulu biasa dia datangi saat masih menjadi anggota terbaik tim basket SMA
Altavia.
Vira dan Rida kini telah berada di C-Tra Arena, GOR
yang biasa digunakan oleh anak-anak SMA Altavia untuk latihan bermain basket.
Dan kebetulan saat mereka datang, tim basket putri SMA Altavia sedang
mengadakan latihan dan ini merupakan kesempatan yang baik yang akan ditunjukkan
Vira kepada Rida. Vira dan Rida cukup berhati-hati memilih tempat duduk agar
tidak ada anak SMA Altavia yang mengetahui kedatangannya. Namun keberuntungan sedang tidak
ada di pihak Vira, saat mereka berdua akan meninggalkan arena, Vira dan Rida
bertemu dengan Stella dan Lisa. Dengan keangkuhannya, Stella yang berniat
mengajak bertanding Vira 1 on 1 , tawaran itu diterima oleh Vira karena
Vira ingin menyelamatkan Rida. Betapa terkejutnya para pemain SMA Altavia,
karena Vira yang selalu unggul diatas dari Stella tiba-tiba dapat di kalahkan
oleh Stella, semuanya terjadi karena Vira hanya ingin mengalah saja.
Pertandingan yang dilihat oleh
Rida, antara Stella dan Vira, membuat Rida dan teman-temannya mau kembali
berlatih untuk persiapan mengikuti turnamen yang akan berlangsung tidak lama
lagi. Untuk pertandingan kali ini tim basket menyiapkannya dengan
sungguh-sungguh, karena mereka berharap akan memberikan prestasi yang
membanggakan dan ekskul basket tidak jadi di hapus.
Akhirnya pertandingan pun tiba….
Dengan masuknya Vira sebagai anggota tim basket, SMA
31 dapat lolos hingga babak Final Four dan SMA “pinggiran” itu termasuk
yang di sukai oleh para penonton. Permainan mereka yang pertama cukup indah dan
dapat memukau penonton yang hadir, dan bila giliran SMA 31 yang bertanding,
bangku penonton selalu penuh. Di pertandingan ini, Vira bertugas untuk memberikan strategi sekaligus
sebagai pelatih untuk tim cewek. Vira juga selalu berubah-ubah posisi, karena
ucapan Vira dalam memberikan pengarahan maka tim basket putri SMA 31 dapat
mencetak prestasi jauh lebih tinggi daripada tim cowok, berkat Vira juga
hari-hari berikutnya terasa lebih mudah di bandingkan hari sebelumnya.
Usai pertandingan, seperti biasa
Vira diantar pulang oleh Rei. Sesampainya di depan rumah, Vira kaget karena
yang ada di hadapannya bukan sang Mama, tapi sang Papa. Betapa bahagianya Vira
karena Papa nya terbukti tidak bersalah sehingga semua harta keluarga Papanya
dapat kembali seperti dulu, termasuk semua barang-barang kesayangan Vira yang
ikut tersita. Karena kabar gembira itu, keluarga Vira segera meninggalkan rumah
untuk pindah ke rumah lamanya. Teman-teman Vira tidak ada yang tahu tentang
kebahagiaan yang sedang di rasakan oleh Vira, termasuk Niken. Karena Vira tidak
masuk sekolah, Niken berniat untuk mengunjungi Vira, tapi yang di dapatinya
hanya rumah Vira yang tak berpenghuni.
Kedatangan sebuah sedan Peugeot
307 membuat Niken kaget apalagi setelah dia tahu siapa remaja yang berada di
balik kemudi mobil itu, Vira. Niken yang masih kaget, diajaknya pergi menuju
sebuah komplek perumahan yang mewah, atau ke rumah Vira yang lama.
Pertandingan kembali
dilaksanakan, kali ini mengambil lokasi di C-Tra Arena. Pertandingan kali ini
tidak berlangsung seperti hari-hari sebelumnya, tim SMA 31 tampak gugup karena
baru pertama kalinya mereka menginjakkan kaki di lapangan yang mewah itu,
terkecuali Rida yang pernah diajak Vira untuk melihat permainan tim putri SMA
Altavia. Vira yang awalnya tidak sadar akan kegugupan timnya itu, kini tengah
sibuk memberikan semangat dan dorongan agar mental teman-temannya itu kembali
pulih dan kembali percaya diri, sehingga mereka dapat bermain dengan baik
seperti di pertandingan sebelumnya. Saat SMA 31 sedang bertanding, mereka tidak
sadar bahwa ada yang mengamati permainan mereka. Stella bersama Lisa sengaja
datang untuk menyaksikan permainan mantan sahabatnya sekaligus sebagai musuh
dan saingannya di lapangan. Stella tercengang melihat stamina Vira yang jauh
lebih kuat darinya, karena Vira bermain individual sejak quarter
pertama. Melihat itu, Stella baru sadar kalau saat melawannya kemarin, Vira
sengaja mengalah, dan tiba-tiba Stella mengajak Lisa pulang dan sudah dapat
ditebak bahwa SMA 31 akan berhadapan dengan SMA Altavia, mantan sekolahnya
dulu, dengan begitu Stella juga akan berhadapan dengan Vira.
Di luar dugaan Vira, malam hari
setelah pertandingan usai, Robi datang untuk meminta maaf kepada Vira. Tidak
mudah bagi Vira untuk memaafkan mantan kekasihnya itu, apalagi setelah dia
ingat apa yang dilakukan Robi terhadap dirinya, Robi hampir saja memperkosa
Vira dan mempermalukannya di hadapan umum. Belum lagi perbuatannya yang
dilakukan kepada sahabatnya, Diana, Vira jelas tidak bisa memaafkannya.
Kedatangan Robi telah menggariskan sedikit gambaran akan maksud yang
sebenarnya.
Hari ini puncak pertandingan
turnamen basket. Ini bukan hanya sekedar pertandingan untuk memperebutkan gelar
juara, tapi lebih merupakan “pertempuran” dari dua sekolah yang berbeda
180derajat satu sama lain. SMA Altavia mewakili sekolah mewah yang ada di pusat
kota, sedangkan SMA 31 yang terletak di pinggiran kota mewakili sebagian besar
sekolah yang ada di Indonesia. Selain itu, pertandingan ini juga merupakan
pertarungan pribadi antara dua pemain yang dapat disebut sebagai pemain basket
SMA terbaik di Bandung, Stella Winchest dari SMA Altavia dan Savira Priskila
dari SMA 31. Pertandingan ini sekaligus untuk
membuktikan siapa yang pantas disebut “Best of the Best”.
Walau pertandingan baru akan di mulai pukul tiga sore,
dua jam sebelum pertandingan C-Tra Arena sudah mulai dipadati oleh penonton.
Pertandingan hampir dimulai, namun Vira belum juga muncul, anggota tim mulai
panik karena Vira yang dianggap sebagai pengatur strategi belum kunjung datang.
Niken yang ngos-ngosan membagikan selebaran tentang strategi yang ditulis Vira
untuk menghadapi SMA Altavia, tak lupa Niken juga menyampaikan kalau Vira
datang terlambat karena ia ada urusan. Pertandingan dimulai. Stella yang tengah
bersiap-siap di pinggir lapangan heran karena dia tidak melihat Vira, musuhnya.
Walau ragu tim SMA 31 tetap melanjutkan perjuangannya yang telah masuk final.
Sayang, kekuatan tim SMA 31 tanpa Vira berkurang drastis namun tanpa Vira, Rida
dan teman-teman tetap mengikuti strategi yang telah di berikan oleh Vira, yang
telah benar-benar paham dengan kemampuan lawannya. Diakhir quarter kedua para
penonton menjadi ribut dan bertepuk tangan saat melihat Vira memasuki lapangan.
Vira terlambat datang bukan karena dia tidak mau
melawan sekolahnya yang dulu, tapi karena dia harus bertemu dengan Stephanie,
salah seorang alumnus SMA Altavia yang mengerti benar sifat Robi. Dalam
kesempatan itu, Stephanie menceritakan apa yang diperbuat oleh Robi agar tim
basket sekolahnya tetap unggul dari sekolah-sekolah lain. Rupanya untuk
memperoleh kemenangan itu, Robi selalu berbuat curang dengan menghubungi salah
satu dari pemain lawan yang dianggap paling berpengaruh dan membuat penawaran
agar pemain lawannya itu tidak datang atau bermain jelek dengan imbalan uang
atau sesuatu yang tidak mungkin di tolak. Ternyata bukan dengan orang lain saja
Robi berbuat seperti itu, Robi juga melakukan hal tersebut kepada Vira yang
memang mempunyai pengaruh besar dalam timnya. Robi memberikan penawaran kepada
Vira berupa janji, janji untuk menerima kembali Vira di SMA Altavia dengan
imbalan Vira tidak boleh datang ke pertandingan. Karena Stephanie tidak ingin
menanggung malu almamaternya, dia menceritakan hal itu kepada Vira.
Kini pertandingan berjalan semakin panas karena SMA 31
masuk dengan formasi yang sungguh baik. Dengan masuknya Vira, Stella kembali
semakin panas dan bersiap memasang kuda-kuda untuk memberikan perlawanan kepada
Vira. Vira yang sudah siap berjalan ketengah lapangan dengan penuh ketenangan
dan membuat para penonton bersorak keras, teman-teman timnya juga berharap agar
Vira membuat keajaiban sore itu. SMA 31 dapat memperkecil ketinggalannya,
dengan posisi Vira yang selalu berubah-ubah, mereka dapat menyamakan kedudukan
dan mampu membuat tim SMA Altavia merasa heran akan kemampuan Vira yang semakin
menonjol.
Memasuki quarter keempat, Vira
benar-benar menjadi sasaran tembak pemain SMA Altavia. SMA Altavia menggunakan
segala cara untuk lebih unggul dari SMA 31. Menghantam Vira, menendang kaki
kanan Vira, dan kecurangan-kecurangan lain yang membuat Vira terluka, juga
mereka gunakan. Stella yang tahu betul seberapa kemapuan Vira memberikan
perintah agar pemain tim nya menendang kaki kanan Vira, yang konon pernah terluka
dan Vira pernah mendapat larangan agar tidak melakukan olahraga basket, tapi
semua itu tidak dipatuhinya. Mengetahui hal itu semua tim SMA 31 tidak terima
sehingga menimbulkan sedikit keramaian di tengah pertandingan.
Lagi-lagi SMA Altavia berbuat
curang. Kini bukan hanya Vira saja yang menjadi sasaran tetapi semua anggota
tim SMA 31, yang lebih mengherankan wasit tidak mengetahui kekerasan yang di
lakukan tim lawan… Masuknya Deby
sempat membuat pemain lawan kaget karena sebelumnya Deby tidak diikut sertakan
dalam pertandingan. Benar kata Vira, Deby sangat membantu dan akan bermain disaat yang kita
butuhkan seperti sekarang ini. Tak terasa pertandingan yang mendebarkan itu
kini telah berakhir.
Dengan hasil terakhir
pertandingan, para penonton telah dapat memastikan siapa yang menjadi juara.
Tapi sebelum penyerahan piala dan medali, panitia akan memberikan pengumuman
untuk gelar Top Scorer dan MVP. Gelar Top Scorer telah jelas di raih oleh
Stella, tapi gelar MVP diterima oleh Vira dari SMA 31. Tidak ada yang
menyangka bahwa Vira akan berjalan menuju kearah kubu pertahanan lawan dan
menghampiri Amel serta menyerahkan piala tersebut kepada Amel supaya diserahkan
kepada keluarga Diana, karena bagi Vira kemenangannya menjadi MVP berkat Diana
yang tanpa Diana Vira tidak akan pernah tahu arti persahabatan yang
sesungguhnya serta mengajarkan Vira untuk lebih menghargai hidup. Mendengar
ucapan Vira, kubu SMA Altavia terdiam dan tak bergeming sama sekali, mereka
terpukau atas apa yang telah di katakan oleh Vira.
Sekarang tiba saatnya penyerahan
piala untuk tim pemenang. Juara ketiga diraih tim SMA 2. Runner-up
tahun ini jatuh kepada SMA 31 utuk basket putrinya, Rida memasuki lapangan dan
menerima piala tersebut dengan hati bangga. Baru saja Vira menerima piala
tersebut dan telah terdengar suara tepuk tangan yang aneh dan itu berasal dari
kubu SMA Altavia. Mereka semua tersadar bahwa yang telah dilakukannya tadi
sangat menyimpang dari nilai-nilai sportivitas dan menghalalkan segala
cara untuk meraih kemenangan. Berbeda dengan usaha keras yang dilakukan oleh
tim SMA 31, mereka melakukan semua itu dengan penuh kerja keras, bahkan sampai
mereka diserang dengan hal yang curang mereka tetap bermain sportif. Karena tepuk tangan yang diberikan kubu SMA Altavia,
suasana gedung C-Tra Arena menjadi seperti suasana saat lebaran dan mereka
melupakan “doktrin” yang ada diantara mereka.
Tugas Vira untuk membantu tim basket agar tidak di
hapus telah selesai, namun Vira masih mempunyai tugas yang harus segera ia selesaikan.
Dua hari setelah pertandingan
itu, Vira membantu Rei untuk mengutarakan isi hatinya kepada Niken. Tugasnya kali ini tidaklah berat,
dan kini semua telah usai. Cinta terpendam Niken dan Rei telah dipersatukan.
Seusai melaksanakan tugasnya itu, Vira langsung pergi meninggalkan Niken dan
Rei dan menuju ke mobilnya.
Liburan semester telah usai,
tahun ajaran baru telah berjalan selama seminggu dan sampai hari ini pun belum
ada tanda-tanda kehadiran Vira di SMA 31. Karena kehadiran Vira tak kunjung
datang, gossip pindahannya ke
sekolahnya yang lama telah tersebar seantero sekolah. Niken yang penasaran lalu
mendatangi petugas Tata Usaha bagian administrasi siswa, jawaban dari petugas
itu membuat lega hati Niken. Akhirnya semua anak SMA 31 merasa lega karena Vira
masih berkenan sekolah di SMA pinggiran.
Pertanyaan siswa SMA 31 terjawab
sudah. Bagi Vira, sekolah yang baik
adalah sekolah yang mampu memberikan perlindungan, kenyamanan, hingga membuat
murid-muridnya bias belajar dengan tenang, merasa betah dan bangga sekolah di
situ. SMA yang dianggap terbaik adalah SMA 31, bukan SMA Altavia.
Saat jam istirahat Niken kembali
ngobrol dengan Vira tentang ketidakhadiran Vira di minggu lalu. Keceriaan yang
dulu sempat hilang kini telah benar-benar tersirat di wajah Vira, bukan hanya
itu tapi SMA 31 juga akan kedatangan murid pindahan yang merasa bahwa SMA 31
ini merupakan sekolah yang benar-benar memberikan kenyamanan serta perlindungan
kepada muridnya. Amel, sahabat Vira memutuskan untuk pindah ke sekolah Vira dan
Niken. Vira kembali bercerita tentang liburannya di Australia. Kepergian Vira
ke Australia bukan hanya untuk bersenang-senang, tapi juga untuk pedekate ke
cowok yang sekarang menjadi kekasihnya itu.
Niken yang ingin tahu siapa cowok
Vira itu mendesak Vira untuk memberitahukannya. Dan yang tidak disangka oleh Niken adalah, cowok yang di maksud oleh Vira
adalah Kak Aji, Kakak Niken yang mendapat biya siswa di Sydney……. Kebahagiaan
pun menghiasi wajah Vira yang telah lama murung……………………….

0 komentar:
Posting Komentar